Cinta Yang Tak Terduga | Nurur Rizkia

Cuaca yang cukup panas. dimana murid-murid akhirnya pulang dengan gembira termasuk Risya yang biasa dipanggil Riri. Risya  adalah salah satu murid dari kelas sebelas di sekolah menengah atas itu. Risya termasuk orang yang sangat pemalu, ramah, dan pendiam. Tapi, dibalik semua itu dia adalah sosok yang keras, dan egoisnya tinggi.
Risya mempunyai seorang sahabat yang bernama Rani. Mereka sangat akrab, bahkan Risya sudah menganggap Rani sebagai keluarganya sendiri. Rani mempunyai paras yang cantik seperti Risya. Mempunyai sifat dan rasa peduli terhadap sesama.

**********

            Keesokan harinya seperti biasa, Risya dan Rani berangkat ke sekolah bersama-sama. Pada jam pulang sekolah pun Risya selalu bersama Rani.
            Ketika mereka menuju pintu gerbang sekolah terlihat dua orang cowok yang menghampiri Risya dan Rani, mereka adalah kakak kelas. Mereka pun berhenti dan bertanya kepada Rani, sahabat Risya.
      “ Eh Ran ! lo liat Dina nggak?.” ujar cowok bertampang manis, namanya Dio.
Dina itu salah satu teman sekelasnya Risya. Akhir-akhir ini Dina memang lagi dekat dengan Dio.
      “ Nggak tuh, mungkin udah pulang duluan.” jawab Rani dengan nada datar.
      “ Ya sudah deh.“ jawab Dio pasrah.
      “ Sabar Yo, kalau jodoh nggak kemana kok !.” ujar Randy, temannya Dio dengan sedikit cengengesan. Randy adalah teman sekelas Dio.
      “ Sip! bener apa kata Randy, sabar aja Yo.” Sambung Risya.
      “ Ehem, udah nggak marah nih?.” Tanya Randy pada Risya.
      “ Udah Ran! yang kemarin nggak usah di bahas disini!.” bentak Risya.
            Randy pun kaget dengan respon Risya yang nggak seperti biasanya itu. Memang sudah dari kemarin mereka bertengkar. Hanya karena masalah Randy menyenggol Risya dan menumpahkan makanan Risya ketika di kantin tanpa sengaja.
            Sebulan yang lalu, Randy pernah menyatakan perasaannya kepada Risya, tapi di tolak begitu saja. Berulang-ulang Randy mencoba kembali menaklukan hatinya, tetap saja tidak berhasil. Meskipun begitu, Randy selalu optimis dan berusaha. Dan sampai detik ini pun dia terus berusaha untuk mendapatkan hati Risya karena dia masih mencintai Risya.
      “ Maaf!.” pinta Randy dengan penuh rasa bersalah.
      “ Nggak usah minta maaf disini!.” bentak Risya lagi dengan jutek.
      “ Ri, udah dong. Kalian jangan bertengkar lagi. Lagi pula Randy nggak sengaja.” sambung Rani memohon pada Risya.
      “ udah deh, kita pulang aja!.” pinta Risya seraya menarik lengan Rani untuk bergegas pulang dan meninggalkan Randy juga Dio.

**********

            Keesokan harinya, Randy mendatangi Risya di kelasnya pada jam istirahat. Ketika ia melihat Randy di depan pintu kelasnya, spontan ia kaget dan mendatangi Randy. Kelihatannya Risya masih sangat marah.
      “ ngapain lo ke sini! nggak usah sok perhatian deh!.” bentak Risya dengan kasar.
      “ Ri, gue minta maaf. Waktu di kantin itu gue nggak sengaja. Gue juga waktu itu disenggol orang dan tanpa sengaja mengenai lo. Gue bener-bener minta maaf!.” Mohon Randy dengan penuh harap.
      “ halaaahhh alasan tipis!.” jawab Risya sinis dan langsung meninggalkan Randy.
      ‘Ri, salah apa sih gue sama lo? gue itu sayang sama lo, bahkan gue cinta. Tapi, biarpun lo seperti ini, cinta gue masih sama seperti pertama kali kita bertemu di depan pintu gerbang sekolah Ri. Entah bagaimana nasib gue jika lo membenci gue seperti ini untuk selamanya Ri. Gue nggak akan sanggup.’ Batin Randy sambil berjalan tertunduk menuju kelasnya.
**********
            Sepulang sekolah  Risya dan sahabatnya keluar dari gerbang sekolah. Risya kaget ketika Randy berjalan menuju kearahnya. ‘Mau ngapain lagi sih ni anak?’ batin Risya penuh Tanya.
      “ Ri, gue mau ngomong empat mata sama lo! pliiisss!.” Mohon Randy.
      “ Mau ngomong apa lagi? Nggak bisa ya langsung ngomong disini aja?” jawab Risya masih dengan nada juteknya.
      “ Ri, gue mohon! kali ini aja.” Pinta Randy.
            Setelah berpikir, Risya pun setuju. Masa dia harus jutek terus dengan Randy hanya gara-gara masalah yang sepele. Akhirnya mereka berdua pergi ke halte seberang sekolah, dan memulai pembicaraan.
      “ Ri, gue mau bilang….” Belum sempat Randy berbicara, Risya langsung memotongnya.
      “ mau ngomong apa sih? Bisa cepetan dikit nggak?” Paksa Risya dengan kasar.
      “ oke oke! tunggu sebentar.” Randy membuka tas ransel hitamnya, didalamnya ada sebuah kotak kecil berwarna merah muda. Tanpa bicara apa-apa Randy langsung memberikannya kepada Risya.
      “ hah? buat apa ini? mau nyogok supaya gue nggak marah lagi sama lo?” kata-kata Risya tersebut membuat Randy sangat kecewa, Randy pun pergi dan meninggalkan Risya di halte. Terlihat wajah Randy yang sangat kecewa dan merasa tidak dihargai. Rasa bersalah pun muncul di benak Risya pada saat itu. Risya pun pulang dengan membawa kotak pemberian Randy tadi.
            Sesampainya dirumah, segera Risya membuka kotak tadi. Dan setelah dibuka, kotak itu berisi kalung yang cantik dan segulung kertas kecil bertuliskan :

Sebelumnya gue minta maaf Ri, atas kesalahan gue kemarin.
Gue beneran nggak sengaja Ri.
Asal lo tau, sampai detik ini gue masih mengharap cinta lo.
Gue sayang lo Ri.
Kalung ini gue kasih buat lo bukan untuk apa-apa.
Selagi gue ada rezeki, nggak ada salahnya kan gue belikan ini buat orang yang gue sayang.
Oya, lewat surat ini gue juga mau pamit sama lo. Mungkin ketika lo baca surat ini gue udah diperjalanan.
Pukul 04.00 sore ini, gue pindah rumah ke Kalimantan. Otomatis sekolah juga pindah kesana.
Jangan sedih ya...hehe. Kayaknya lo nggak bakalan sedih deh. Lo selalu marah kalau ketemu gue. Pastinya lo bakalan lebih seneng nggak ada gue.
Makasih ya Ri, kalau ada kabar baru tentang sekolah di Jakarta jangan lupa kabarin gue ya. Hubungin aja ke nomor HP gue. Itupun kalau masih lo simpan.
Suatu saat gue akan jenguk sekolah kita.

            Tanpa sadar air mata Risya berjatuhan tak tertahan. Dia menyesal dengan apa yang telah ia perbuat pada Randy akhir-akhir ini.

**********

            Dua bulan telah terlewati. Setelah ulangan semester, libur panjang pun mereka nikmati. Begitu juga dengan Randy di Kalimantan, untuk mengisi libur panjangnya pun Randy menyempatkan diri ke Jakarta untuk bertemu teman-temannya terutama Risya. Semenjak kepindahan Randy, mulai ada benih-benih cinta di hati Risya. Dan semenjak itu, Risya dan Randy semakin akrab.
            Ketika Risya dan Randy bertemu di halte seberang sekolah, Risya datang dengan senyuman, begitu juga Randy.
      “ Ran.. maafin gue ya ? masih mau kan maafin gue ? gue udah kasar banget sama lo dulu.” Ucap Risya dengan penuh rasa bersalah.
      “ nggak apa-apa kok Ri, gue ngerti keadaan lo. Gue juga bisa marah kalau gue mau makan, eee makanannya di senggol, tumpah deh! Hehehe” jawab Randy dengan santai dan senyum tipisnya.
            Sore hari yang sangat indah, dimana burung berkicauan dan angin berhembus dengan lembut menemani mereka yang sedang mengupas rindu yang selama ini terpendam.
            Pembicaraan merekapun terhenti ketika Randy menyinggung tentang perasaannya pada Risya. Risya kaget, kalau Randy masih tetap cinta dan mengharap cintanya.
      “ Gue juga sayang lo Ran.” Ucap Risya pasti tanpa malu. Tanpa basa-basi, Randy langsung memeluk Risya. Dia sangat bahagia dan tidak menduga, mimpi yang selama ini ia inginkan akhirnya tercapai.
            Hari-hari pun mereka lewati bersama. Sebelum kepergian Randy kembali ke Kalimantan, Randy mempunyai rencana jalan-jalan ke suatu tempat.
      “Ri, sebelum jalan. Gue mau selama di jalan lo tutup mata lo, mau nggak ? kalau nggak mau rencana ini di batalin aja ya ?” goda Randy bercanda dengan senyum tipisnya itu.
      “ Iih lo ngancam yaa…? Hhmmm ya sudah deh gue nurut.” Jawab Risya.
      Akhirnya Risya pun mau. Selama di perjalanan, Risya selalu bertanya mau dibawa kemana dia. Tapi Randy selalu cari alasan agar tempat tersebut menjadi kejutan buat Risya.

**********

            Setelah kurang lebih setengah jam di perjalanan, sampai juga mereka di puncak, tempat yang sangat indah. Dan baru pertama kali ini Risya di ajak ke tempat seromantis itu.
      “ Ri, sudah siap buka mata ?” Tanya Randy.
      “ Sudah siap dari tadi kok, udah boleh di buka nih ?” Tanya Risya balik.
      “ Hmmm.. oke, sini gue yang buka.” Jawab Randy dibelakang Risya seraya membuka mata Risya dengan kedua tangannya.
            Setelah dibuka, Risya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa, dan saking indahnya dia menangis.
      “ Ri, lo kenapa? Nggak suka ya dengan kejutan ini ?” Tanya Randy sedih.
      “ Nggak Ran, gue nangis karena gue terharu. Gue suka semua ini, makasih Ran. Baru kali ini gue di kasih kejutan seindah dan seromantis ini” jawab Risya masih sambil terus menangis.
      “ Syukur deh kalau lo suka, gue hanya ingin membuat lo bahagia dengan gue. lo sayang nggak sama gue? Kalau sayang, jangan menangis lagi ya demi gue” Ujar Randy sambil mengusap pipi Risya yang dibasahi oleh air matanya.
      “ Iya Ran, demi Randy gue nggak akan nangis lagi. Gue sayang lo Ran, gue nggak mau kehilangan lo.” jawab Risya menahan air matanya sambil memeluk erat tubuh Randy.
      “ Iya, gue juga nggak akan ninggalin lo sendiri. Ya sudah, jangan nangis lagi ya, yuk kita pulang, udah sore banget nih” kata Randy sambil menarik tangan Risya untuk masuk kedalam mobil.

**********

      “Akhirnya sampai juga. Ya sudah, lo hati-hati ya di jalan” Pinta Risya.
             Waktu Randy akan meninggalkan rumah Risya, rasanya ada rasa kehilangan yang sangat menyapa Risya. Risya ingin menahan Randy untuk tetap di sampingnya. Tapi Risya tak tega melihat Randy yang sudah kelelahan dan mengantuk. ‘ kasihan Randy, padahal besok harus pulang ke Kalimantan’  batin Risya.
            Tiba-tiba……
      “ Randy……”
      Risya memeluknya dari belakang waktu Randy membuka pintu mobilnya.
      “ Hei, ada apa Ri ? hayoo… kangen yaa ? baru aja ketemu masa udah kangen?” goda Randy dengan mata bonekanya itu.
      “ Ran, makasih untuk hari ini. Gue senang banget. Gue cuma ingin lo tahu kalau gue sayaaaaang banget sama lo. Gue nggak mau kehilangan lo.” bisik Risya sambil meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Randy.
      “ Gue juga sayang lo, sayaaaaang banget sama lo Ri, gue juga nggak mau kehilangan lo. Ya sudah gue pulang dulu ya. Lo langsung istirahat. Sampai ketemu besok ya, besok lo ngantarin gue ke bandara kan?” pinta Randy.
      “ Iya Ran, pasti gue antar lo. yaudah hati-hati yaa” pinta Risya balik.
      “ Oke.” Jawab Randy. perlahan Risya melepaskan pelukannya itu. Randy pun mencium kening Risya dan masuk ke dalam mobil lalu pergi dari hadapan Risya.

**********

            Seminggu lebih sudah alunan lagu “I Will Always Love You” itu memenuhi kamar Risya. Membuat hatinya perih. Risya duduk menghadap meja belajarnya. Disandarkannya kepalanya ke sandaran kursi, membiarkan peristiwa delapan hari lalu bermain-main di pelupuk matanya. Air matanya pun tumpah tanpa dapat dia cegah. Sangat singkat bagi Risya merasakan kebahagiaan yang ia inginkan selama ini, begitu cepat Randy meninggalkannya.
            Malam itu sepulangnya dari rumah Risya, Randy sangat capek dan mengantuk, tanpa sadar mobilnya tidak dapat dikendalikan dengan baik. Sampai akhirnya mobilnya menabrak trotoar jalan dan kepala Randy mengalami pendarahan yang sangat parah. Sempat dibawa ke RS tapi sayang, Randy tak terselamatkan. Tak sanggup Risya mengingat apa yang telah terjadi kepada Randy. Dia hanya bisa menangis, karena belum siap menjalani hari-hari tanpa Randy.

**********


      Risya menatap gundukan tanah merah di depannya. Sekelilingnya telah sepi. Kerabat dan teman-temannya Randy satu per satu telah meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Hanya tinggal Risya dan Rani yang berada di situ.
      “ Riri, sudahlah” bisik Rani. Dirangkulnya bahu sahabatnya tersayang itu. Membimbing Risya untuk berdiri. Rani dapat merasakan kepedihan dan kesedihan Risya.
      “ Oh iya, tadi Dio nitipin HP Randy. Dio bilang, banyak sekali sms yang belum sempat Randy kirim buat lo Ri. Semua isinya pernyataan cinta Randy. Dia sangat sayang dan kagum sama lo. Dia yakin lo bakal jadi yang terbaik buat semuanya.” Jelas Rani.

Rani menyodorkan sebuah handphone yang diterima Risya dengan tangan gemetar.  Lalu dengan sekejap sepi itu menghampiri Risya. Teringat saat Risya menolaknya berulang-ulang, saat Randy dengan setia menantinya di pintu gerbang sekolah, halte seberang sekolah, kalung cantik dalam kotak merah muda, caci makinya terhadap Randy, tubuh jangkungnya, senyum tipisnya, mata bonekanya, lambaian tangannya, rayuannya, saat di puncak, kejutannya, pelukan hangatnya, sayang dan cintanya, sepi pun kian menggigit Risya. ‘gue nggak mau kehilangan lo’  kalimat itulah yang masih teringat oleh Risya kemarin, hari ini, esok, lusa, dan  hingga saat nanti.

Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANTAN

MOVE ON

comeback!